PERCOBAAN
2
SINTESIS
GARAM MOHR
A.
TUJUAN
Mempelajari
pembuatan garam mohr dari reaksi antara besi dengan asam sulfat dan larutan
ammonia.
B.
LANDASAN
TEORI
Ada dua bijih
besi yang terpenting yaitu: hematit (Fe2O3) dan
magnetit (Fe3O4). Dan garam besi (II) yang
terpenting adalah garam besi (II) sulfat yang dibuat dari pelarutan besi atau
besi (II) sulfida dengan asam sulfat encer, setelah itu larutan disaring, lalu
diuapkan dan mengkristal menjadi FeSO4.7H2O yang
berwarna hijau. Dalam skala besar garam ini dibuat dengan cara mengoksidasi
perlahan-lahan FeS oleh udara yang mengandung air.
Garam-garam besi (II) atau fero
diturunkan dari besi (II) oksida, FeO dalam larutan. Garam-garam ini mengandung
kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion besi (II)
dapat mudah dioksidasikan menjadi besi (III), maka merupakan zat pereduksi yang
kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efenya dalam suasana
nertal atau basa bahkan oksigen dari atmosfer akan mengoksidasikan ion besi
(II). Maka larutan besi (II) harus sedikit asam bila ingin disimpan untuk waktu
yang agak lama.
(Syukri,1999)
Garam besi (II) sulfat dapat
bergabung dengan garam-garam sulfat dari garam alkali, membentuk suatu garam
rangkap dengan rumus umum yang dapat digambarkan sebagai M2Fe(SO4).6H2O,
dimana M merupakan simbol dari logam-logam seperti K, Rb, Cs, dan NH4.
Rumus ini merupakan gabungan dua garam dengan anion yang sama atau identik
yaitu M2SO4FeSO4.6H2O.
Untuk garam rangkap dengan M
adalah NH4, yang dibuat dengan jumlah mol besi (II) sulfat dan
ammonium sulfat sama, maka hasil ini dikenal dengan garam mohr. Garam mohr
dibuat dengan mencampurkan kedua garam sulfat dari besi (II) dan ammonium,
dimana masing-masing garam dilarutkan sampai jenuh dan pada besi (II)
ditambahkan sedikit asam. Pada saat pendinginan hasil campuran pada kedua garam
di atas akan diperoleh kristal yang berwarna hijau kebiru-biruan dengan bentuk
monoklin. Garam mohr tidak lain adalah garam rangkap besi (II) ammonium sulfat
dengan rumus molekul (NH4)2FeSO4.6H2O
atau (NH4)2(SO4)2.6H2O.
Garam mohr, besi ammonium sulfat,
merupakan garam rangkap dari besi sulfat dan ammonium sulfat dengan rumus
molekul [NH4]2[Fe][SO4]2.6H2O.
Garam mohr banyak digunakan dalam bidang kimia analitik, yaitu dalam analisis
volumetri, untuk membakukan larutan kalium permanganat atau kalium bikrom.
(Cotton
dan Wikinton, 1989)
Garam Mohr cukup stabil
terhadap udara dan terhadap hilangnya air dan umumnya dibuat untuk membuat
larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetrik dan
sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik. Sebagian FeSO4.7H2O
secara lambat melapuk dan berubah menjadi kuning coklat bila dibiarkan dalam
udara. Penambahan HCO3- atau SH- kepada larutan aqua Fe2+
berturut-turut mengendapkan FeCO3 dan FeS. Ion Fe2+ teroksidasi
dalam larutan asam oleh udara menjadi Fe3+. Dengan ligan – ligan
selain air yang ada, perubahan yang nyata dalam potensial bisa terjadi.
Ion ferro [Fe(H2O)6]2+
memberikan garam berkristal. Garam mohr (NH4)2SO4.
Fe(H2O)6 SO4 cukup stabil terhadap udara dan
terhadap hilangnya air, dan umumnya dipakai untuk membuat larutan baku Fe2+
bagi analisis volumetri, dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran
magnetik. Sebaliknya FeSO4.7H2O secara lambat melapuk dan
berubah menjadi kuning cokelat bila dibiarkan dalam udara.
(Sunardi,2006)
C.
ALAT DAN BAHAN
Alat:
1.
Cawan
porselin
2.
Gelas
piala
3.
Gelas
ukur
4.
Kaki
tiga
5.
Pembakar
spirtus
6.
Kasa
asbes
7.
Pengaduk
8.
Corong
Bahan:
1.
Asam
sulfat 20% 25 ml
2.
Serbuk
besi
3.
Larutan
ammonia 25% 20 ml
4.
Korek
api
5.
Kain
lap
6.
Plastik
7.
Aquades
8.
Kertas
saring
E.
DATA PENGAMATAN
1.
Warna dan bentuk (p,c,g) H2SO4 :
bening, cair
2.
Warna dan bentuk (p,c,g) serbuk besi : hitam, padat
3.
Warna dan bentuk (p,c,g) NH3 : bening, cair
4.
Reaksi-reaksi yang terjadi dalam percobaan :
5.
Perhitungan berat garam mohr secara teoritis :
Massa mohr teoritis 
6.
Berat garam mohr yang dihasilkan : 12,9494 gr
7.
Warna dan bentuk kristal garam mohr : hijau kebiruan,
kristal
8.
Rendemen garam mohr hasil praktikum :
Rendemen 
F.
PEMBAHASAN
Garam mohr merupakan garam rangkap
yang terbentuk dari reaksi besi dengan asam sulfat dan larutan amoniak. Larutan
amoniak berfungsi sebagai ligan yang mempunyai sebuah orbital yang berisi
elektron tak berpasangan untuk interaksinya dengan logam, bentuk kompleks
koordinasi yang klasik dengan logam. Mereka bergabung hanya dengan interaksi
elektron ligan dengan orbital d,s, atau p yang kosong dari logam. Ligan ini
adalah basa lewis, dan logam adalah asam lewis. Ikatan ini dibentuk dari rotasi
simetrik diatas sumbu logam dengan ligan dan digambarkan sebagai suatu ikatan.
Pada percobaan ini, ada tiga langkah yang dilakukan, yaitu pembuatan larutan A,
larutan B dan kemudian larutan A dan larutan B dicampur.
1.
Larutan A
Pembuatan
larutan A yaitu pertama–tama menetralkan 25 ml H2SO4 20%
dengan 25% amoniak (NH3), sehingga dihasilkan larutan (NH4)2SO4
dengan pH=7 (netral). Kemudian larutan ini diuapkan sampai jenuh (volume
menjadi setengahnya) dengan tujuan untuk menguapkan NH3. Reaksi yang terjadi yaitu:
2NH3(aq) + H2SO4(aq)
→ (NH4)2SO4(aq)
2.
Larutan B
Pada percobaan
ini Larutan B dibuat dengan melarutkan serbuk besi dalam H2SO4
10 %. Serbuk besi berwarna hitam setelah dilarutkan dengan asam sulfat dan
serbuk besi akan melarut sedikit demi sedikit. Dimana asam sulfat tersebut
merupakan pelarut yang mengandung proton yang dapat diionkan dan berupa
asam kuat atau lemah. Untuk melarutkan semua besi, larutan tersebut dipanaskan
sampai hampir semua besi larut, tapi sulit untuk melarutkan semua besi. Fungsi
pemanasan disini yaitu untuk menghilangkan gas H2 dan mempercepat
pembentukan ion Fe2+ yang ditandai dengan terbentuknya hablur berwarna
kehijauan. Kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas dengan
mengunakan kertas saring, ke dalam larutan tersebut ditambahkan sedikit H2SO4
sampai terbentuk kristal di permukaan larutan.
H2SO4 disini berfungsi
untuk mengoksidasi logam Fe menjadi ion logam Fe2+. Adapun tujuan
dari penyaringan adalah untuk memisahkan larutan dari filtratnya, dan
penyaringan dalam keadaan panas berfungsi untuk menghindari terbentuknya kistal
menghindari terbentuknya kristal pada suhu yang rendah dan tujuan dari
pemanasan adalah sebagai katalis yaitu untuk mempercepat terjadinya reaksi
sehingga hampir semua besi larut. Pemanasan dilakukan secara perlahan dengan
api sedang agar tidak terjadi oksidasi pada besi (Fe). Larutan ini terus
diuapkan dengan tujuan untuk mengurangi molekul air yang ada pada larutan.
Percobaan ini manghasilkan garam besi (II) sulfat yang merupakan garam besi
(II) yang terpenting. Garam-garam besi (II) atau fero diturunkan dari besi (II)
oksida, FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe2+
sehingga berwarna hijau dan Pembentukan FeSO4 dari logam Fe
merupakan reaksi elektron berdasarkan prinsip termokimia. Reaksi yang terjadi yaitu:
Fe(aq) + H2SO4(aq) →
FeSO4(aq) + H2(g)
3.
Larutan A dan B
Pembentukan
kristal garam mohr dapat dilakukan dengan cara mencampurkan larutan A dan B
ketika masih panas, atau pada keadaan yang sama, kondisi ini digunakan agar
tidak terjadi pengkristalan larutan pada suhu yang rendah, maka akan dihasilkan
larutan dan endapan berwarna hijau muda. Untuk memperoleh kristal, dilakukan
pendinginan sehingga terbentuk kristal yang lebih halus. Untuk memperoleh garam
Mohr yang murni dilakukan dengan melarutkan kembali garam Mohr yang diperoleh
kedalam air panas. Lalu didinginkan kembali, sehingga diperoleh garam Mohr yang
murni. Kristal garam Mohr ditimbang dengan neraca analitik dan didapatkan
12,9494 gram garam Mohr murni. Dari data yang diperoleh, maka didapatkan rendamen
garam mohr sebanyak 52,8146 %, artinya kemurnian garam Mohr hanya 52,8146 %,
sangat berbeda jika dibandingkan dengan berat teori dari garam Mohr. Berat
garam mohr teori yaitu sebesar 24,5182 gram. Ini disebabkan dari berbagai faktor
diantaranya karena mungkin pada saat pembuatan larutan A ketika diuapkan
seharusnya sampai volumenya berkurang sampai setengahnya tatapi kelompok kami
menguapkannya belum berkurang setengahnya dan pada saat melarutkan serbuk besi
kemungkinan belum larut semuanya karena serbuk besi susah untuk dilarutkan.
Selain itu saat mencampurkan larutan A dan larutan B mungkin tidak pada suhu
yang sama/ Bentuk kristal garam mohr adalah monoklin dengan warna hijau muda.
Dalam senyawa kompleks Fe2+ berperan sebagai atom pusat
dengan H2O sebagai ligannya. Adapun reaksi yang berlangsung yaitu :
FeSO4(aq) + (NH4)2SO4(aq) + 6H2O(l)
→ (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O(s)
G.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan,
yaitu garam Mohr merupakan senyawa kompleks besi dengan ligan amonium dan
sulfat dengan rumus molekul (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O.
Pembuatan garam mohr dilakukan dengan cara kristalisasi, yaitu melalui
penguapan, dan pendinginan. Sehingg diperoleh kristal berwarna hijau muda yang
terbuat dari campuran besi (II) sulfat dengan larutan amonium sulfat. Garam
Mohr yang terbentuk sebesar 12,9494 gram dengan tingkat kemurniannya adalah
sebesar 52,8146 %.
H.
SARAN
1)
Sebaiknya praktikan lebih berhati-hati dan cermat pada
saat praktikum
2)
Praktikan harus memahami materi terlebih dahulu
sebelum melakukan praktikum
3)
Sebaiknya alat-alat yang akan digunakan disterilkan
terlebih dahulu
4)
Praktikan harus bekerja sama yang baik dengan anggota
kelompok
I.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
“Sintesis dan Pemanfaatan Garam Mohr”. Diakses
26 Mei 2014. http/SAINS KIMIA/Praktikum Kimia
Anorganik/sintesis-dan-pemanfaatan-garam-mohr-bab.html.
Cotton dan
Wikinson. Kimia Anorganik Dasar. UI-Press. Jakarta. 1989.
Harjadi, W. Ilmu
kimia Analitik Dasar. Erlangga. Jakarta. 1989.
Svehla, G. Vogel
Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro
Bagian 1. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta. 1985.
Sunardi. 116 Unsur Kimia. CV. Yrama
Widya. Bandung. 2006.
Syukri. Kimia Dasar 3. ITB. Bandung. 1999.
J.
LAMPIRAN

Kristal garan mohr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar